Skip to main content
Presentation
Kearifan sebuah universitas
Pidato Ilmiah Penganugerahan Adjunct Professor Universitas Negeri Malang (2017)
  • Hadi Nur, University Technology Malaysia
Abstract
Bismillahirrahmannirahim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Yang terhormat Ketua Senat Universitas Negeri Malang
Yang terhormat Para Anggota Senat Universitas Negeri Malang
Yang terhormat Rektor Universitas Negeri Malang
Yang terhormat Pimpinan Universitas, Fakultas, Pascasarjana, Lembaga, dan jurusan di lingkungan Universitas Negeri Malang
Yang terhormat Para Sejawat Dosen, Karyawan, Mahasiswa
Yang terhormat Para Undangan serta Hadirin yang mulia
 
Puji syukur kehadirat Allah Subnahu Wa Ta’ala yang telah memberikan rahmat, taufiq dan hidayahnya kepada kita semua sehingga saya dapat berdiri disini dan dikukuhkan sebagai adjunct professor di Universitas Negeri Malang (UM). Peristiwa ini tidak pernah saya bayangkan sebelum ini karena saya telah 22 tahun meninggalkan Indonesia dan berkarir sebagai peneliti dan dosen di luar negeri, tepatnya di Universiti Teknologi Malaysia (UTM). Saya mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. AH. Rofi'uddin (Rektor, Universitas Negeri Malang) dan Dr. Markus Diantoro (Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang) yang telah membuat langkah yang berdampak positif kepada kerjasama lintas negara dalam bidang pendidikan dan penelitian ilmiah. Dengan dilantiknya saya sebagai adjunct professor di UM, Insya Allah, saya akan turut menyumbang kepada pendidikan dan penelitian di UM. Setidaknya, sejak saya menerima surat keputusan pengangkatan sebagai adjunct professor pada Februari 2017, saya telah mulai mencantumkan Universitas Negeri Malang sebagai afiliasi saya dalam lima publikasi saya di jurnal internasional.
 
Hadirin yang saya muliakan,

Pada hakikatnya, misi dan komitmen sebuah universitas berkaitan erat dengan tanggung jawabnya terhadap generasi sekarang dan masa depan, dan untuk kesejahteraan umat manusia melalui pendidikan, penelitian ilmiah dan pengabdian masyarakat. Untuk itu, universitas mestilah didukung oleh ekosistem yang dapat menghasilkan ilmuwan, teknokrat, profesional, pemikir dan hasil-hasil penelitian yang bermanfaat dan bermutu tinggi. Tujuan dari pidato pengukuhan ini adalah untuk memberikan pandangan mengenai bagaimana sebuah universitas itu berperan aktif dalam perbaikan dan pengembangan kualitas kehidupan, kebudayaan, dan ilmu pengetahuan untuk pembangunan yang berkeberlanjutan. Pandangan ini mungkin sedikit subjektif karena dilandaskan kepada pengalaman pribadi saya sebagai dosen dan peneliti di luar Indonesia hampir lebih dari 20 tahun. Pidato ini dimulai dengan perjalanan karir saya, dilanjutkan dengan pandangan terhadap hikmah dari sebuah universitas, dan ditutup dengan bagaimana strategi mencapai misi dan visi universitas yang telah diamanahkan kepada universitas tersebut. 
 
MERAIH CITA-CITA DENGAN GEMBIRA

Setiap orang memiliki mimpinya sendiri dan karena itu, tenggelam dalam sebuah perjalanan menuju pencapaian mimpinya. Tiga puluh tahun yang lalu (1987), ketika saya masuk universitas, di Jurusan Kimia, Institut Teknologi Bandung (ITB), saya bermimpi menjadi seorang profesor dengan menuliskan judul Prof. Dr. di depan nama saya di halaman depan buku petunjuk laboratorium. Delapan tahun kemudian (1995), saya datang ke Universiti Teknologi Malaysia (UTM) sebagai mahasiswa Ph.D., dan dua setengah tahun kemudian (1998), saya berhak untuk menempatkan gelar Dr. di depan nama saya. Tahun 2010 saya dilantik sebagai profesor di UTM, dan sekarang, pada tahun 2017 diangkat sebagai adjunct professor di Universitas Negeri Malang. Mimpi menjadi profesor itu menjadi kenyataan. Buku petunjuk laboratorium itu sekarang menjadi saksi mimpi saya. Al-hamdu lillahi rabbil 'alamin.

Mempunyai tujuan hidup merupakan bagian penting dari perencanaan karir dan perlu diatur dalam setiap proses sehingga kita memiliki komitmen untuk mencapainya. Hal ini perlu dilakukan dengan penuh optimis dan kegembiraan, yang disebut sebagai kegembiraan dalam meraih cita-cita. Dengan demikian, akan lebih menyenangkan jika kita mengejar target daripada kita dikejar oleh target tersebut. Hal ini memberikan pesan yang jelas, bahwa setiap orang harus memiliki ambisi dan cita-cita. Oleh karena itu, kita harus menentukan arah hidup kita. Mungkin ada orang yang tidak peduli dengan ambisi dan cita-cita, tapi suatu hari nanti orang itu harus membuat keputusan untuk menentukan masa depan mereka. Jadi, setiap orang diharuskan memahami kekuatan dan kelemahannya, termasuk kemampuannya untuk membangkitkan motivasi mereka. Setiap orang harus memiliki cita-cita dalam hidup, meskipun Allah Subnahu Wa Ta’ala maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Selain penetapan tujuan dan kegembiraan dalam meraih cita-cita, menurut saya, faktor lain yang menentukan keberhasilan seseorang adalah kemampuan beradaptasi. Prinsip ini harus diterapkan jika ingin bertahan. Sesuatu yang kita anggap benar, mungkin belum tentu tepat untuk orang lain. Adaptasi cerdas mungkin merupakan istilah yang tepat untuk menggambarkan situasi ini.

Saya percaya bahwa penetapan tujuan, kegembiraan meraih cita-cita dan adaptasi cerdas sangat penting dalam kehidupan kita. Berdasarkan prinsip-prinsip ini, Alhamdulillah, saya sekarang profesor di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) dan adjunct professor di Universitas Negeri Malang (UM) dan berdiri di depan hadirin semua untuk menyampaikan pidato ini.
 
PERJALANAN KARIR ILMIAH

Saya dibesarkan di Padang, Sumatera Barat, Indonesia. Ayah dan ibu saya adalah dosen di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Padang (sekarang Universitas Negeri Padang). Saya pertama kali tertarik pada kimia suatu hari di tahun 1984 ketika saya masih seorang siswa SMA. Saya mengikuti kursus tambahan dalam bidang kimia. Kursus ini diajarkan oleh Drs. Tahasnim Tamin, dosen kimia di IKIP Padang. Saya tertarik dengan konsep kimia yang indah yang diajarkan oleh beliau dengan demonstrasi laboratorium. Salah satu percobaan yang dilakukan di kelas adalah reaksi antara natrium dengan air dimana natrium yang sangat kecil dijatuhkan ke dalam air di dalam gelas kimia. Reaksi natrium dengan air menyebabkan natrium menyala pada permukaan air. Reaksi ini sangat menakjubkan saya. Inilah salah satu contoh bagaimana eksperimen kimia mengarahkan siswa untuk tertarik pada sains. Hal ini tidak akan terjadi tanpa guru yang mempunyai dedikasi yang tinggi dalam mendidik dan mengajar.

Pelajaran penting berikutnya datang saat saya menempuh pendidikan sarjana kimia di Institut Teknologi Bandung (ITB), Indonesia. Dalam tugas akhir, saya telah memilih untuk melakukan penelitian tugas akhir dengan Dr. Harjoto Djojosubroto, Direktur Pusat Penelitian Teknik Nuklir (PPTN), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), di Bandung. Beliau tertarik dengan bidang Neutron Activation Analysis (NAA). Kami merencanakan sebuah studi komparatif mengenai penentuan selenium dalam darah manusia dengan Neutron Activation Analysis (NAA), dan saya mengerjakan proyek tugas akhir ini selama dua tahun. Beliaulah yang mengilhami saya untuk melanjutkan studi ke pascasarjana. Peristiwa terpenting yang terjadi saat itu adalah pertemuan dengan Terry Terikoh, wanita yang menjadi istri saya. Karir saya dalam dunia akademis selalu mendapat dukungan dari Terry, dan inilah faktor terbesar yang membawa kesuksesan yang saya alami dalam karir profesional saya.

Pada bulan September 1993, saya mendaftarkan diri di program magister Ilmu dan Teknik Material di Institut Teknologi Bandung (ITB) dan beruntung dibimbing oleh Dr. Bambang Ariwahjoedi yang merupakan dosen kreatif yang memiliki banyak gagasan hebat. Kreativitas sangat penting pada saat itu karena kurangnya peralatan-peralatan yang mendukung penelitian di departemen kami pada saat itu. Saya menyelesaikan proyek magister dengan topik sintesis biokeramik hidroksilapatit dengan cara pengendapan dan karakterisasinya. Saya lulus Magister Teknik dengan yudisium cum laude pada tahun 1995.

Setelah lulus magister di ITB, saya melanjutkan studi Ph.D. saya dalam bidang kimia material ​​di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) di bawah bimbingan Prof. Halimaton Hamdan. Saya menangani sebuah proyek penelitian mengenai sintesis, karakterisasi dan aktivitas katalitik aluminofosfat berpori, VPI-5. Setelah enam bulan bekerja di laboratorium, saya gagal mensintesis VPI-5 [1]. Tesis Ph.D. saya berasal dari dua belas bulan bekerja keras di laboratorium. Pada masa yang sama, saya juga bekerja dengan proyek lain dengan topik sintesis zeolit ​​dari abu sekam padi. Saya lulus Ph.D. dengan tiga publikasi ilmiah mengenai studi tentang struktur, sifat fisikokimia dan aktivitas katalitik AlPO4-5 yang dimodifikasi dengan logam transisi. Saya juga mengusulkan dan berhasil mensintesis zeolite NaA zeolit ​​langsung dari sekam padi dan abu sekam padi. Ini adalah pekerjaan selama dua belas bulan yang sangat intens. Akhirnya saya menemukan bagaimana bekerja dalam bidang sains secara mandiri. Walaupun sangat melelahkan, periode ini sangat menggembirakan. Saya menyelesaikan Ph.D. saya dalam waktu dua setengah tahun pada tahun 1998. Setelah itu, saya bekerja sebagai postdoc selama satu tahun di UTM.

Pada tahun 1999, saya cukup beruntung menjadi postdoctoral fellow di bawah bimbingan Prof. Bunsho Ohtani di Catalysis Research Center, Hokkaido University, Jepang. Prof. Ohtani memiliki kontribusi yang besar dalam karir saya. Saya cukup beruntung bisa bekerja dengan Prof. Ohtani yang merupakan ilmuwan yang sangat inspiratif. Beliau memiliki kapasitas untuk menghasilkan gagasan yang hebat. Dalam dua tahun saya sebagai JSPS (Japan Society for the Promotion of Science) Postdoctoral Fellow dan dilanjutkan sebagai COE (Center of Excellent) Visiting Researcher selama setengah tahun, kami menerbitkan sebuah makalah mengenai konsep baru dalam bidang katalisis heterogen yang disebut sebagai Phase Boundary Catalysis. Saya berhutang budi kepada Prof. Ohtani karena telah menunjukkan kepada saya bagaimana melakukan penelitian sains dengan cara yang benar.
 
PENELITIAN ILMIAH ITU MENYENANGKAN

Tujuh belas tahun yang lalu (2000), ketika saya postdoctoral fellow di laboratorium Prof. Bunsho Ohtani di Hokkaido University, saya membaca pengantar buku yang ditulis oleh Prof. Akira Fujishima, seorang ilmuwan yang sangat terkenal di bidang fotokatalisis tentang pandangan dan pengalamannya, bahwa penelitian ilmiah yang menyenangkan. Sampai sekarang, saya sangat terkesan dengan kalimat yang tertulis dalam pengantar buku ini. Prof. Fujishima telah menulis dalam bukunya sebagai berikut:

Scientific research is enjoyable. Of course it seems difficult when progress is slow and there are no results of our efforts. Serious mistakes can be made through lack of consideration. However, the joy that comes from making a new, unexpected discovery cannot be compared with any other. It is like climbing along, steep mountain path: as you finally reach the top, the clouds part, and you are greatly moved by the spectacular landscape that appears before you. Furthermore, the suffering of not being able to explain the results of an experiment on the basis of past experience and the joy of finally being able to solve the problem by coming up with a new idea are just like mountain climbing.” [2]

Jadi, pertanyaannya adalah, jika anda seorang ilmuwan, apakah anda pernah melihat panorama indah dari puncak gunung yang sedang kita perjuangkan untuk ditaklukkan?
 
KEINDAHAN SEBUAH UNIVERSITAS DAN INTEGRITAS KEILMUAN

Prof. Richard Feynman, peraih Nobel Fisika pernah mengatakan bahwa, sebagai seorang ilmuwan, dia menikmati keindahan bunga dengan lebih mendalam daripada seorang seniman. Artis atau orang biasa hanya menikmati dan menghargai keindahan bunga hanya dari aspek keindahan luar bunga tersebut. Sebagai ilmuwan dia lebih menikmati keindahan bunga - tidak hanya dari keindahan luar bunga - tapi jauh lebih dalam, seperti struktur molekul, metabolisme, biofisika dan aspek ilmiah lainnya [3].

Berdasarkan pandangan di atas, sebagai dosen dan peneliti, saya menganalogikan universitas sebagai "bunganya Richard Feynman". Universitas tidak hanya dilihat dari fasilitas fisik saja, tapi jauh lebih dalam – yaitu proses pendidikan dan penelitian di dalamnya. Proses ini harus didasarkan pada budaya ilmiah. Budaya ilmiah tidak akan ada jika tidak ada integritas ilmiah, dan integritas ilmiah tidak akan terbentuk jika tidak ada praktik penelitian yang baik. Ada beberapa prinsip dalam praktik penelitian yang baik:

  • Praktik penelitian yang baik memerlukan pembimbingan dan latihan yang tepat.
  • Praktik penelitian yang baik mendorong keterbukaan dan penyebaran hasil penelitian.
  • Praktik penelitian yang baik membutuhkan penyimpanan catatan yang tertatur benar.
  • Praktik penelitian yang baik membutuhkan hasil yang berkualitas tinggi dan praktik publikasi yang baik.
Berdasarkan pertimbangan di atas, menjadi ilmuwan itu memang susah. Agar bisa unggul dalam penelitian ilmiah, premis dasar berikut perlu dipertimbangkan secara serius. Pertama, keunggulan dalam penelitian adalah salah satu akar utama dari semua keunggulan akademis, baik dalam pendidikan ditingkat sarjana dan pascasarjana. Kedua, dalam sains, tidak peduli seberapa spektakuler hasilnya, pekerjaannya tidak selesai sampai hasilnya dipublikasikan. Hal-hal ini tidak akan bisa dicapai dengan mudah karena penelitian ilmiah biasanya membutuhkan kerjasama antara peneliti dari berbagai bidang. Hal ini akan menghasilkan pertukaran gagasan, mempromosikan persaingan, dan menumbuhkan kerendahan hati. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan secara kelompok adalah inkubator untuk penggandaan gagasan. Berdasarkan prinsip-prinsip ini, mari kita ciptakan penelitian superstar di Universitas Negeri Malang!
 
MERENUNGKAN KEMBALI HIKMAH PENDIDIKAN TINGGI

"Allah menganugerahkan al-Hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi al-Hikmah, dia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (Al-Baqarah: 269). 

Kebetulan beberapa minggu yang lalu kita telah merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-72. Sepatutnya kita bertanya, sudah merdekakah kita? Karena kita ingin bangsa ini betul-betul merdeka, maka kemerdekaan itu semestinya tidak saja diartikan sebagai pembebasan dari belenggu penjajahan, fisik maupun non-fisik, tetapi juga pembebasan dari cara, gaya, arah dan pandangan hidup yang salah, yang jauh dari tuntunan hikmah. Berdasarkan ini, apakah kita sudah merdeka dari cara, arah dan pandangan kita terhadap pendidikan tinggi kita?

Mukadimah Keputusan Menteri Pendidikan Nasional, Indonesia, nomor 603/O/2001 telah menyatakan bahwa tugas pokok perguruan tinggi adalah untuk berperan aktif dalam perbaikan dan pengembangan kualitas kehidupan, kebudayaan, ilmu pengetahuan dan kerjasama internasional untuk mencapai kedamaian dunia untuk kesejahteraan umat manusia. Namun apakah tugas pokok universitas ini telah dijalankan dengan baik? Saya agak khawatir dengan perkembangan akhir-akhir ini, karena fungsi universitas sudah mulai melenceng daripada tugas pokoknya seperti yang dinyatakan dalam mukadimah Menteri Pendidikan Nasional tersebut. Terdapat dua fenomena yang menurut saya yang dapat melencengkan fungsi asal universitas, iaitu pendidikan yang terlalu berorientasi kepada komersialisasi dan kecendrungan universitas untuk mengejar angka, seperti webometrics, jumlah publikasi, jumlah mahasiswa dan lain sebagainya indikator kinerja utama (Key Performance Indicator), tanpa melihat substansi mengenai hikmah dari angka-angka tersebut. Sebaiknya, letakkanlah sesuatu pada hakikat dan hikmah dari indikator tersebut, jika tidak, ini akan menjadi klaim yang berkelebihan (overclaim) terhadap prestasi yang pada akhirnya hanya akan menjadi keberhasilan yang semu (pseudo achievement). Sebagai contoh, demi peningkatan peringkat universitas dan kenaikan pangkat, para dosen banyak “bermain” dengan publikasi. Maksud “bermain” adalah mereka hanya mengejar publikasi bukan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan tetapi publikasi untuk naik pangkat dan prestise dengan mengabaikan etika dan kejujuran. Tanpa mempertimbangkan hikmah, keberhasilan itu hanyalah untuk keperluan indikator kinerja utama saja yang berupa angka-angka dan tidak sampai kepada esensinya (hikmah).
Bila angka mulai menjadi indikator dalam banyak aspek kehidupan, maka ada kecenderungan bahwa makna terhadap segala sesuatu dinilai berdasarkan angka. Bila semua hal dinilai berdasarkan angka maka nilai hidup manusia direduksi menjadi angka. Penggunaan angka untuk mengukur sesuatu yang bersifat fisik itu sah. Ini tidak salah. Namun, ini akan menjadi masalah jika kita menggunakan angka sebagai indikator mutlak untuk mengevaluasi kemanusiaan. Fenomena ini yang kerap terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Hal ini sangat berbahaya ketika kehidupan manusia dan makna hidup hanya dinilai dari sudut pandang sebuah angka. Angka sangat mudah untuk dimanipulasi.

Suatu ketika, saya diundang untuk memberikan ceramah tentang penelitian dan publikasi di salah satu pusat penelitian di UTM. Seorang dosen muda bertanya kepada saya, apa yang harus dia lakukan sebagai dosen dengan tekanan untuk memenuhi persyaratan indikator kinerja utama tanpa melupakan idealisme? Dalam ceramah tersebut saya menjelaskan tugas utama dosen adalah mengajar, mendidik dan melakukan penelitian. Dengan melihat realitas dunia dan universitas saat ini, kita perlu melihatnya sebagai keseimbangan antara realisme dan idealisme. Pada kenyataannya, realisme memaksa kita untuk memainkan permainan angka dalam publikasi ilmiah dan nomor lainnya yang ditetapkan oleh sistem peringkat universitas. Tapi, kita harus memiliki idealisme. Kita harus menyadari bahwa tugas sebenarnya sebuah universitas adalah menghasilkan kualitas lulusan yang baik dari setiap aspek, terutama dalam sikap dan integritas moral.

Pada usia muda, kita perlu bertahan untuk bersaing dengan orang lain agar sukses dan mencapai tujuan dan target kita. Kita harus memiliki pengetahuan dan ketrampilan yang cukup untuk bersaing dan bertahan hidup di dunia yang kompetitif ini. Berjuang dan bekerja keras. Terkadang kita egois untuk memenuhi indikator kinerja utama kita. Itulah kenyataan. Tapi, kita tidak selalu mengikuti jalur indikator kinerja utama. Dengan bertambahnya usia, kita mesti sadar bahwa kita perlu memikirkan kontribusi kita kepada orang lain dan masyarakat, lingkungan dan kemanusiaan. Kita harus mengikuti garis "kearifan". Kearifan ini menekankan pada intelektual dan moral. Kita harus mengubah "budaya memiliki" menjadi "budaya memberi" dan dari “kecerdasan dan keinginan” kepada “hati dan ketulusan”.

Alhamdullilah, saya sudah membimbing dan meluluskan lebih daripada 20 orang mahasiswa Ph.D. dan menguji belasan mahasiswa Ph.D. selama saya berkarir sebagai dosen. Saya berusaha supaya mahasiswa-mahasiswa saya menjadi manusia yang cinta kepada ilmu pengetahuan, walaupun saya tidak yakin saya berhasil atau saya layak untuk mengajarkan itu karena saya masih banyak kelemahan. Ph.D., atau disingkat sebagai Doctor of Philosophy adalah gelar tertinggi dalam bidang tertentu, yang biasanya memerlukan beberapa tahun untuk menyelesaikannnya. Arti dari “Philosophy”, yang berasal dari bahasa Yunani, tidak bermaksud semata-mata sebagai filsafat, tetapi dalam arti yang lebih luas, iaitu “cinta akan kebijaksanaan” atau "cinta kepada ilmu pengetahuan" [4]. Namun apakah dalam membimbing mahasiswa, kita mengajarkan mengenai arti dari “cinta akan kebijaksanaan” atau "cinta kepada ilmu pengetahuan" yang kadang-kadang hilang karena mengejar sesuatu yang sifatnya “artificial” dan “superficial”?
 
MENTALITAS PROFESIONAL SEORANG PROFESOR

Perguruan tinggi tidak dapat dilepaskan dari kualitas profesornya, karena sebuah perguruan tinggi akan menjadi unggul jika kualitas profesornya juga unggul. Pandangan di bawah ini adalah modifikasi dari tulisan Jansen H. Sinamo yang berjudul “7 Mentalitas Profesional” [5] yang saya pikir juga berlaku untuk seseorang yang bergelar Profesor. Sejak saya dilantik sebagai profesor di UTM tujuh tahun yang lalu, banyak orang memanggil saya “prof”, suatu gelaran yang kadang-kadang membuat saya malu dan bertanya: “Layakkah saya dipanggil dengan gelar itu?” Di bawah ini adalah gambaran sikap dan mentalitas yang perlu dipunyai oleh seorang profesor. Saya akan berusaha kearah itu, Insya Allah.

Mentalitas mutu. Inilah ciri utama dari seorang profesor yang profesional, yaitu mementingkan kualitas daripada kuantitas. Menurut saya seseorang tidaklah layak menjadi seseorang profesor jika dia hanya mengandalkan kuantitas saja — apakah karena telah mengajar selama puluhan tahun tanpa sembarang hasil penelitian yang berkualitas layak dihargai sebagai profesor?

Mentalitas altruistik. Inilah mentalitas kedua yang harus dipunyai oleh seorang profesor — setelah dia memenuhi mentalitas mutu di atas. Mentalitas ini didorong oleh pengabdian untuk mengajarkan dan mengembangkan ilmu yang dipunyainya untuk orang lain. Menurut Wikipedia [6]: “Altruisme adalah perhatian terhadap kesejahteraan ‘orang lain’ tanpa memperhatikan diri sendiri”. Dalam hal ini, karena profesor selalu berhadapan langsung dengan masyarakat ilmiah dan mahasiswa yang diajar dan dibimbingnya, maka mereka tersebut adalah ‘orang lain’ tersebut.

Mentalitas mendidik. Mendidik tidak sama dengan mengajar. Dalam mendidik faktor panutan memegang peranan penting. Tidaklah mendidik jika seorang profesor bercerita bahwa perbuatan mencuri adalah perbuatan yang tercela jika dia melakukan plagiat dan tidak menghargai jerih payah mahasiswanya — seperti dengan mencantumkan namanya paling depan dipublikasi ilmiah — padahal semua hasil dalam publikasi ilmiah itu adalah hasil jerih payah mahasiswanya, dari ide, membuat proposal dan menulis publikasi tersebut. Profesor hanya bertugas memperbaiki bahasa Inggrisnya saja.

Mentalitas pembelajar. Profesor hendaklah selalu meningkatkan pengetahuannya setiap saat.

Mentalitas pengabdian. Mengabdi untuk bidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan mentalitas profesional seorang profesor.

Mentalitas kreatif. Kreativitas tidak hanya perlu dipunyai oleh profesor tetapi juga oleh semua orang. Namun, jika profesor tidak kreatif, dapat dibayangkan bahwa tidak akan ada penemuan-penemuan baru yang dihasilkan olehnya.

Mentalitas etis. Masalah etika dalam dunia akademis perlu lebih diperhatikan secara serius oleh universitas karena jika tidak diperhatikan, ini akan menyebabkan hilangnya hikmah dari sebuah universitas dalam bidang pendidikan, penelitian dan pengabdian terhadap masyarakat.
 
PENGEMBANGAN INSTITUSI YANG BERKEBERLANJUTAN

Saat ini saya diamanahkan untuk menjabat sebagai Direktur sebuah pusat penelitian di UTM. Banyak tantangan yang perlu dihadapi untuk menjadikannya sebagai pusat penelitian yang berkeberlanjutan. Untuk itu, perlu strategi yang tepat untuk menanggapi kebutuhan universitas pada saat ini dan masa yang akan datang. Pengembangan infrastruktur, sumber daya manusia dan keberlanjutan keuangan (financial sustainability) merupakan hal utama dalam pengembangan pusat penelitian dan universitas di masa depan. Perubahan signifikan dalam perubahan struktur kelembagaan mungkin perlu dilakukan. Prinsip-prinsip yang dipegang dalam pengembangan institusi yang berkeberlanjutan adalah sebagai berikut [7]:

  • Kepemimpinan akademik
  • Integrasi penelitian dan pendidikan
  • Aktivitas yang inovatif yang berdampak global
  • Pendekatan lintas disiplin untuk mengatasi tantangan global
  • Organisasi yang dapat diakses oleh publik dengan mudah
  • Kesinambungan keuangan

Strategi pengembangan institusi penelitian dan universitas perlu merujuk kepada prinsip-prinsip di atas.

Selain tantangan dalam skala global, isu nasional dan lokal juga akan mempengaruhi cara universitas bertindak untuk menjadi sebuah institusi yang mempunyai keberlanjutan di masa depan. Kebijakan ditingkat pemerintah dan juga universitas akan sangat berpengaruh terhadap apakah institusi tersebut dapat menjadi institusi yang memainkan peranan yang penting dalam tingkat lokal, negara dan global. Pendanaan menjadi salah satu isu yang sangat penting jika subsidi pemerintah terhadap universitas semakin berkurang dan tidak stabil. Di banyak negara, pendanaan untuk universitas disesuaikan dengan kinerja dan peringkat sebuah universitas. Rencana strategis universitas harus mengantisipasi isu-isu penting seperti meningkatnya biaya dan pengurangan dana, persaingan antara universitas, intervensi pemerintah, penilaian kinerja, dan ketidakmampuan untuk menarik mahasiswa untuk memasuki universitas sebagai sumber dana yang utama.

Menjawab tantangan itu, kami di Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano), Universiti Teknologi Malaysia (UTM) telah mengadakan restrukturisasi organisasi. Struktur organisasi ini diharapkan tanggap terhadap kebutuhan UTM pada saat ini dan masa yang akan datang. Beberapa proyek sedang dijalankan di CSNano, diantaranya adalah pendirian perusahaan spin-off (spin-off company) dan pengembangan jurnal ilmiah yang nantinya akan mendukung kegiatan ilmiah, komersialisasi produk penelitian dan kepakaran untuk menjadikan CSNano menjadi pusat penelitian yang berkeberlanjutan dari aspek akademik dan finansial.
 
Salah satu proyek berdampak tinggi yang juga sedang dilakukan adalah inisiatif pembentukan Indonesia-Malaysia Research Consortium (I'M Research Consortium). Ini merupakan salah satu proyek penting di Centre for Sustainable Nanomaterials (CSNano) dan juga di UTM. Inisiatif ini berkaitan dengan pengangkatan saya sebagai adjunct professor di Universitas Negeri Malang. Saya berharap pengangkatan adjunct professor ini dapat menjadi model yang dapat diikuti oleh universitas-universitas lain di Indonesia dan Malaysia agar kerjasama yang lebih erat dan berdampak tinggi dapat terlaksana dengan lebih mudah. I'M Research Consortium merupakan wadah yang menghubungkan dosen dan peneliti di lembaga-lembaga pendidikan tinggi dan penelitian di Indonesia dan Malaysia untuk berinteraksi dan bekerja sama secara lebih sistematis. Dalam usaha mengeratkan lagi hubungan Indonesia-Malaysia, seiring dengan keinginan kedua negara, pembentukan I'M Research Consortium adalah penting karena merupakan salah satu rencana strategis melalui kerjasama dalam bidang pendidikan dan penelitian.
 
KEARIFAN

Sebagai penutup, ada baiknya saya memberikan sedikit perspektif mengenai kearifan atau kebijaksanaan, karena bagi saya tujuan utama dari sebuah perguruan tinggi adalah untuk mendidik manusia. Kearifan sebuah universitas sangat bergantung kepada kearifan orang-orang yang memainkan peranan dalam universitas tersebut. Jika manusia dalam universitas tersebut tidak arif, maka tidak ariflah universitas tersebut.

Manusia yang dihasilkan oleh universitas tidak hanya akan menjadi insinyur, ekonom, sastrawan, pemikir atau saintis, tetapi yang lebih penting adalah menghasilkan manusia yang arif. Tentu saja menjadi arif itu tidak mudah. Orang akan lebih mudah menjadi pandai karena rajin belajar. Menjadi orang yang produktif juga lebih mudah, asalkan rajin dan disiplin. Hal itu banyak dibuktikan disekeliling kita. Sebagai contoh, kita bisa saja mencetak mahasiswa menjadi ‘mesin’ untuk publikasi ilmiah dengan cara menekan mereka untuk menjadi produktif. Oleh karena itu, saya mencoba menguraikan mengapa menjadi arif atau bijaksana itu penting dan seharusnya menjadi tujuan utama dari pendidikan, terutama pendidikan di universitas.

Sebelum kita masuk dalam uraian mengapa kearifan mesti menjadi tujuan utama dalam pendidikan tinggi, ada baiknya kita melihat terlebih dahulu mengenai pengertian. Ini pengertian kearifan: “Kearifan adalah pemahaman yang mendalam dan realisasi seseorang terhadap sesuatu, peristiwa atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan sesuai dengan pemahaman tersebut” [8]. Hal ini memerlukan kontrol emosi sehingga prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuanlah yang menentukan tindakan seseorang tersebut. Kearifan juga pemahaman menyeluruh tentang kebenaran dan juga kemampuan untuk menilai secara optimum tindakan yang dilakukan.”

Di bawah ini adalah penjelasan kata kunci dari definisi tersebut, iaitu: pemahaman yang mendalam, realisasi, kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan, kontrol emosi, prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan.

Pemahaman yang mendalam. Untuk menjadi arif, pemahaman terhadap sesuatu hal tidak boleh setengah-setengah. Kita harus paham betul permasalahan sampai detail. Perlu waktu, penelahaan dan mungkin juga kontemplasi untuk mendapat pemahaman terhadap sesuatu hal. Dalam acara dialog di televisi, seringkali kita melihat orang berbicara asal bunyi, karena pemahamannya terhadap suatu permasalahan tidak begitu mendalam.

Realisasi. Pemahaman saja tidak cukup. Perlu ada tindakan untuk merealisasikan pemahaman. Dalam bahasa Inggris disebut sebagai No action talk only. Orang yang bijaksana tidak hanya pandai berkata-kata tetapi juga perlu membuktikan kata-katanya dalam bertindak. Jangan hanya menjadi tukang kritik. Orang arif adalah orang yang pemikiran dan ucapannya sesuai dengan tindakannya.

Kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan tindakan. Tidak semua orang mampu bertindak cepat dan tepat. Perlu pengetahuan, pengalaman dan juga keberanian untuk itu. Yang banyak adalah orang yang bertindak lambat. Lambat mengambil keputusan, sehingga masalah lain timbul karena lamanya keputusan itu diambil. Kalaupun cepat, seringkali tidak tepat.

Kontrol emosi. Orang yang tidak dapat mengontrol emosi bukanlah orang yang arif atau bijak. Elemen ini yang biasanya jarang dipunyai orang. Perkelahian di parlemen di beberapa negara menjadi contoh orang-orang yang berpendidikan tinggi tidak dapat mengontrol emosi.

Prinsip-prinsip universal, nalar dan pengetahuan. Orang yang arif perlu menerapkan prinsip-prinsip universal, seperti etika, kelaziman dengan menggunakan nalar yang baik dan didukung oleh pengetahuan yang cukup. Orang baik dan bermoral tinggi tidak cukup menjadi orang bijaksana tanpa memiliki pengetahuan yang cukup.

Berdasarkan hal-hal di atas, adalah sangat penting mengarahkan pendidikan untuk menghasilkan orang-orang yang arif.

Wallahu a'lam bishawab.
 
UCAPAN TERIMA KASIH

Saya berterima kasih kepada Universitas Negeri Malang karena mempercayakan saya dengan jabatan adjunct professor ini, terutama kepada Prof. Dr. AH. Rofi'uddin (Rektor, Universitas Negeri Malang) dan Dr. Markus Diantoro (Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang). Ucapan terima kasih juga saya ucapkan kepada Prof. Datuk Ir. Dr. Wahid Omar (Naib Canselor, Universiti Teknologi Malaysia) yang telah mendukung inisiatif dan aktivitas saya selama ini. Saya sangat bersyukur memiliki kesempatan untuk bekerjasama dengan Prof. Datuk Dr. Halimaton Hamdan (Universiti Teknologi Malaysia), Prof. Dr. Bunsho Ohtani (Hokkaido University), Prof. Dr. Shigeru Ikeda (Konan University, Jepang), Prof. Madya Dr. Zainab Ramli (Universiti Teknologi Malaysia), Prof. Dr. Salasiah Endud (Universiti Teknologi Malaysia), Assoc. Prof. Mohd Nazlan Mohd Muhid (Universiti Teknologi Malaysia), Prof. Dr. Sugeng Triwahyono (Universiti Teknologi Malaysia), Prof. Madya Dr. Lee Siew Ling (Universiti Teknologi Malaysia), Dr. Leny Yuliati (Universiti Ma Chung), Dr. Hendrik Oktendy Lintang (Universiti Teknologi Malaysia), Dr. Jon Efendi (Universitas Negeri Padang), Dr. Dwi Gustiono (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi), Prof. Dr. Mohd Marsin Sanagi (Universiti Teknologi Malaysia), Prof. Dr. Abdul Rahim Mohd Yusoff (Universiti Teknologi Malaysia),  Prof. Madya Dr. Mohd Arif Agam (Universiti Tun Hussein Onn Malaysia), Prof. Dr. Ismunandar (Institut Teknologi Bandung), and Dr. Rino Rakhmata Mukti (Institut Teknologi Bandung), Dr. Djoko Hartanto (Institut Teknologi Sepuluh Nopember) dan Prof. Dr. Didik Prasetyoko (Institut Teknologi Sepuluh Nopember). Saya juga ingin mengucapkan terima kasih kepada seluruh postdoc, research officer dan mahasiswa saya di Universiti Teknologi Malaysia (UTM) atas kerjasama dan dukungan mereka. Tidak lupa saya juga mengucapkan terima kasih kepada ayah saya, Prof. H. Nur Anas Djamil dan ibu saya, Dra. Hj. Sofiah Djamaris, yang telah mendidik dan selalu mendoa’akan dan menasehati saya. Jasa mereka berdua tidak dapat saya balas, hanya Allah Subnahu Wa Ta’ala yang dapat membalas jasa mereka berdua.

Ucapan terima kasih juga saya tujukan kepada institusi yang telah mendukung penelitian saya, iaitu Japan Society for Promotion of Science (JSPS), Ministry of Science, Technology and Innovation (MOSTI) Malaysia, Ministry of Higher Education (MOHE) Malaysia, The Academy of Sciences for the Developing World (TWAS), Trieste, Italy, Nippon Sheet Glass Foundation for Materials Science and Engineering dan Universiti Teknologi Malaysia (UTM).

Semoga pidato pengukuhan ini bermanfaat bagi Bapak, Ibu dan hadirin semuanya. Terima kasih atas perhatian Bapak, Ibu dan hadirin semuanya dalam mengikuti acara pengukuhan ini.
 
Wassalamu’alaikukum Waromatullahi Wabarokatuh

DAFTAR PUSTAKA    
 
[1] M.E. Davis, C. Saldarriaga, C. Montes, J. Garces, and C. Crowdert. “A molecular sieve with eighteen-membered rings”, Nature. 331 (1999) 698-699.
[2] A. Fujishima, K. Hashimoto, T. Watanabe. TiO2 photocatalysis: fundamental and applications. BKC Inc. Tokyo.  1999.
[3] R.P. Feynman, The pleasure of finding things out: the best short works of Richard Feynman. Perseus Publishing, Cambridge, Massachusetts. 1999. 
[4]  J.H. Sinamo, “7 Mentalitas Profesional”, http://wartawarga. gunadarma.ac.id/2010/04/7-mentalitas-profesional/, diakses pada 11 Agustus 2017.
[5] Dimodifikasi dari slide presentasi Ir. Iskandar Budisaroso Kuntoadji mengenai wirausaha sosial di Universiti Teknologi Malaysia pada 26 Oktober 2011.
[6] “Altruism”, dalam Wikipedia, https://en.wikipedia.org/ wiki/Altruism, diakses pada 11 Agustus 2017.
[7] “UCL 2034: A new 20-year strategy for UCL”, http://www.ceelbas.ac.uk/ ucl-2034/UCL2034, diakses pada 11 Agustus 2017.
[8] “Hikmat”, dalam Wikipedia, https://id.wikipedia.org/wiki/Hikmat, diakses pada 11 Agustus 2017.
 
Keywords
  • Pendidikan tinggi,
  • Kearifan sebuah universitas
Disciplines
Publication Date
August 8, 2017
Location
Malang
Citation Information
Hadi Nur. "Kearifan sebuah universitas" Pidato Ilmiah Penganugerahan Adjunct Professor Universitas Negeri Malang (2017)
Available at: http://works.bepress.com/hadi_nur/210/